Beranda > Lain - lain > Korban Tewas Situ Gintung 56 Orang

Korban Tewas Situ Gintung 56 Orang


Jumat, 27 Maret 2009 pukul 16:49:00

Korban Tewas Situ Gintung 56 Orang
ANTARA : ANGKAT JENAZAH. Beberapa anggota SAR mengangkat jenazah korban banjir bandang akibat jebolnya tanggul Situ Gintung, Cireundeu, Banten, Jumat (27/3). Tanggul buatan Belanda tersebut jebol mengakibatkan sedikitnya 56 orang tewas dan lebih dari 600 rumah

JAKARTA — Sampai Jumat (27/3) korban tewas jebolnya Situ Gintung mencapai 56 orang. Sekitar 600 rumah warga rusak. Berbagai bantuan dan kunjungan masyarakat, pejabat, tokoh partai politik datang ke lokasi kejadian hingga petang. Hingga kini para korban yang hilang juga masih diupayakan pencarian.

Belakangan, malah diketahui bahwa Situ Gintung bukanlah danau. Kepala Balai Besar Sungai Ciliwung-Cisadane Pitoyo Subandrio mengatakan, Situ Gintung bukanlah danau, melainkan bendungan kecil yang dulunya digunakan irigasi. Karena hujan lebat sehari sebelumnya, maka air meluap dan bendungan pun jebol.

”Permukaan air naik secara drastis. Karena airnya naik, maka limpahanmya ini juga naik karena lebarnya hanya lima meter. Selama ini belum pernah ada hujan selebat itu dalam waktu yang singkat. Maka airnya naik terus, melimpah dan bendungan jebol,” katanya di daerah Situ Lembang saat ada peninjauan ke sana, Jakarta, Jum’at (27/3).

Dikatakannya, bendungan kecil sepanjang 200-an meter ini dibuat oleh Belanda tahun 1932, selesai 1933. Ini bendungan urugan homogen dengan area pelimpah (spill way) lebarnya 5 meter. Di situ ada pintu untuk irigasi zaman dulu yang sekarang ukurannya kecil karena menjadi areal rumah.

Bendungan yang jebol tak hanya terjadi di Ciputat saja, namun bisa juga terjadi di bendungan yang lain kalau terjadi limpahan air. Kondisi yang membuat jebol bendungan Situ Gintungitu adalah genangan air yang meluap. Dari genangannya seluas 21 hektar, artinya kurang lebih 1,5 juta kubik air. ”Itulah yang jebol mendorong ke bawah sehingga rumah-rumah itu tersapu begitu saja.”

Rumah-rumah itu, dari hasil pengamatannya, sudah masuk ke jalur air dan berada di daerah lereng bendungan. ”Masyarakat juga harus diberi pemahaman, harus berada di zona aman karena pelestarian air itu penting. Konservasi itu penting. Ini harus dijaga juga luasannya.”

Saat ini, Ari Murwanto, kepala pusat penelitian bangunan air di lokasi untuk mengadakan penelitian. Pihaknya sendiri sudah membawa bronjong kawat untuk mengamankan tebing bendungan. ”Bendungan kalau urugan ya jebol, baik tanah, tanah dan batu, pasti jebol kalau terjadi limpasan, karena mudah tererosi. Lain halnya kalau dari beton. Kami akan bangun kembali dari dana tanggap darurat.”

Menurutnya, pembangunan bendungan ini harus dilakukan untuk konservasi. Pelestarian sumber air itu langkah yangpenting. ”Justru sekarang dengan sisa-sis yang ada harus dilestarikan, nanti kalau dijadikan perumahan semua gak ada lagi untuk air.”

Pemerintah Memanggil Konsultan Jepang

Pemerintah langsung memanggil konsultan dari Jepang untuk memperbaiki bendungan Situ Gintung yang jebol pada Kamis dini hari dan memakan korban 52 orang meninggal.Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto di lokasi bencana Desa Cireunde, Tangerang, Jumat, mengatakan perbaikan bendungan Situ Gintung akan langsung dikerjakan.
“Jangka pendeknya langsung dikerjakan. Itu sudah saya panggil para ahli dari Jepang. Saya panggil langsung,” ujar Djoko.

Menurut Djoko, Sabtu (27/3) besok Kementerian PU akan menggelar rapat dengan para ahli bangunan Jepang itu guna membahas kontruksi bendungan Situ Gintung yang baru.”Mereka besok akan rapat di kantor untuk membuat desain yang bagus,” kata Djoko.

Untuk sementara, ia menjelaskan supaya tembok bendungan yang tersisa tidak longsor akan dipasangi pelindung tebing atau kasur batu untuk mengganjal.”Ini langkah darurat. Untuk langkah permanennya harus direncanakan dulu. Kita tangani dulu oleh pusat untuk sementara,” ujarnya.

Karena penanganan bendungan Situ Gintung masuk ke sistem tanggap darurat, Djoko menjelaskan dana untuk penanggulangan sementara juga menggunakan dana darurat. Djoko menjelaskan, dari sisi teknis bendungan Situ Gintung jebol karena tidak mampu lagi menampung debit air yang sangat besar.Limpahan air yang begitu banyak dalam waktu singkat membuat dinding bendungan berusia 60 tahun itu jebol secara tiba-tiba.

Ketika mengunjungi lokasi bencana, Presiden Yudhoyono menginstruksikan agar bendungan Situ Gintung dibangun kembali dengan kualitas dan perencanaan konstruksi yang baik. dew/ant/kpo

By Republika Newsroom

Hingga Exclusive Amatir Video Tanggul Situ Gintung

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: