Beranda > berita PONOROGO > Hak-Hak Anak Terabiakan

Hak-Hak Anak Terabiakan

24 Juni 2009

[ Rabu, 24 Juni 2009 ]

PONOROGO – Tidak perlu dipungkiri, kemajuan jaman berimbas banyak pada perkembangan anak. Hak-hak yang seharusnya dienyam terabaikan begitu saja. Bahkan, tindak kekerasan yang mengarah ke anak sulit dihapus. Entah itu traficking (perdangan manusia), kekerasan fisik atau pelecehan seksual yang sekarang ini marak.

Penegakan UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dinilai masih kurang efektif. Pemerintah masih berjalan satu kaki dalam penanganan yang berhubungan langsung dengan generasi penerus bangsa tersebut. Untuk itu dituntut peran aktif dari masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak anak yang kian terkikis tersebut. ”Kami cukup prihatin dengan perkembangan remaja sekarang ini. Banyak yang sudah kelewat batas tindakan-tindakan yang dilakukan berujung kekerasan,” terang Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) Ponorogo Endang Retno Wulandari saat pelaksanaan Forum Anak Ponorogo di Gedung Korpri, kemarin (23/6).

Dalam konteks ini, menurut dia, anak juga harus berperan aktif. Artinya, guna memperjuangkan hak mereka harus tahu apa yang seharusnya dijalankan terkait UU No 23 Tahun 2002. Sehingga tidak hanya perpatok pada lembaga atau individu yang telah memperjuangkannya. ”Untuk itu kami akan terus membentuk duta anak yang tangguh untuk memberi pembelajaran pada teman sejawatnya,” tuturnya.

Dia menambahkan, dalam perjalanan 2008 sudah ditemukan tidak kurang 30 kasus kekerasan terhadap anak. Kebanyakan imbas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pelecehan seksual. Sedangkan, lima bulan terakhir jumlah itu turun drastis. Untuk sementara dalam catatan KP3A hanya tujuh kasus. ”Semakin menurun kekerasan anak. Untuk itu kami akan terus berperan aktif dalam melindungi hak mereka yang sudah terabaikan,” paparnya.

Sementara Indah Kurnia, salah satu peserta mengungkapkan forum anak semacam ini sangat berguna untuk menambah wawasan. Apalagi materi yang diajarkan berhubungan langsung dengan kehidupan anak di lingkungan dalam berinteraksi. ”Bila sering dilakukan semacam ini (forum anak) tentunya bisa menjadi bekal kami,” katanya.(dip/sad)

%d blogger menyukai ini: